Kisah Yusra Mardini: Dari Perang Suriah ke Olimpiade Brazil

545 Viewed admin3 0 respond
Kisah Yusra Mardini: Dari Perang Suriah ke Olimpiade Brazil
Kisah Yusra Mardini: Dari Perang Suriah ke Olimpiade Brazil

Seorang perenang olimpiade bernama Yusra Mardini sedang melaksanakan sesi latihan sebelum terbang ke Rio de Janeiro, Brazil untuk melaksanakan pertandingan pertamanya di even 4 tahunan tersebut. Siapa sangka, gadis berusia 18 tahun tersebut telah melewati banyak perjuangan keras dari negara kelahirannya Suriah hingga berada di Jerman.
Segala hal tentang perjalanan Mardini menuju Olimpiade Rio tak seperti atlet kebanyakan. Dia akan berkompetisi dan ambil bagian di atlit tim pengungsi, sebuah takdir yang tak pernah terbayangkan kurang dari setahun lalu saat dia berada di lautan Mediterania, berenang untuk masa depannya.

Kepada New York Times, Selasa (2/8/2016), Mardini menceritakan perjuangannya untuk sampai di Jerman, negara yang kini memberinya fasilitas untuk kembali berenang, dan untuk kembali hidup selayaknya manusia biasa tanpa khawatir serangan bom dan suara tembakan yang membabi buta.

Single content advertisement top

Bulan Agustus tahun lalu, Mardini dan saudara perempuannya Sarah meninggalkan Suriah dan melewati sebuah perjalanan panjang nan melelahkan melalui Lebanon, Turki, Yunani, hingga negara Balkan, Eropa Tengah dan tiba di Jerman.

Perjalanan itu, menurutnya, merupakan perjalanan hidup dan mati, ketika kapal yang dia tumpangi bersama 20 orang pengungsi lainnya mengalami kerusakan mesin di antara Turki dan Yunani. Dia bersama Sarah yang juga merupakan seorang perenang, terjun ke dalam air dan berusaha untuk menolong agar kapal tersebut tak tenggelam di lautan dingin Mediterania.

Kisah Mardini menjadi sorotan publik setelah dia ditemukan Komite Olimpiade Internasional (IOC) sebagai kandidat untuk berlaga dalam tim pengungsi. Tiba-tiba saja Mardini menjadi terkenal dan media menyebutnya sebagai wajah baru yang menjadi contoh keterbukaan budaya Jerman, sebuah kisah yang dapat menciptakan harapan di tengah krisis pengungsi.

Kisah Yusra Mardini: Dari Perang Suriah ke Olimpiade Brazil

Kisah Yusra Mardini: Dari Perang Suriah ke Olimpiade Brazil

Mardini secara resmi berada di tim pengungsi Olimpiade pada bulan Juni 2016 bersama 9 atlet dari Suriah, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo dan Ethiopia. Mardini akan berkompetisi di kelas 100 meter gaya bebas dan gaya kupu-kupu.

“Saya sudah terbiasa berada di dalam air sejak kecil,” ujar Mardini yang tumbuh di Daraya, sebuah wilayah di pinggiran kota Damaskus.

Ayahnya yang merupakan pelatih renang, telah melatih Mardini sejak dia berumur 3 tahun. Setelah itu Mardini mengikuti sejumlah kejuaraan renang untuk tim nasional Suriah dan mendapatkan dukungan dari Komite Olimpiade Suriah.

Namun kehidupan yang tenang itu mulai terusik di tahun 2011 saat dirinya berumur 13 tahun. Dia melihat kehidupannya yang normal secara perlahan berubah menjadi semakin buruk.

“Tiba-tiba saja anda tak bisa bepergian sesuka hati, atau ketika ibumu menghubungimu yang sedang berada di jalan untuk pulang ke rumah karena telah terjadi sesuatu,” ujarnya. “Sekolah akan ditutup selama beberapa hari, atau berita seseorang tertembak dan anda harus menyelamatkan diri,” tambah Mardini.

Walaupun perang mulai berkecamuk, Mardini dan teman-teman sebayanya di sekolah berusaha untuk tak membicarakan hal tersebut dan menjalani kehidupan selayaknya remaja biasa. “Hal tersebut sungguh mengganggu. Pada awalnya semua orang membicarakan hal itu, namun beberapa tahun setelahnya mereka akan berkata ‘oke, aku mungkin akan mati, namun biarkan aku menikmati hidup,” tuturnya mengenang.

ahun 2012 rumah keluarganya hancur lebur akibat tragedi Daraya, satu dari tragedi pembunuhan terburuk di awal konflik negara tersebut. Sejak saat itu, situasi semakin tak terkendali. Dua rekannya sesama perenang terbunuh saat sebuah bom meledak di fasilitas tempat mereka berlatih.

“Saat itu saya berkata kepada ibu, bahwa saya muak dengan perang ini. Ibu kemudian berkata ‘baiklah, aku akan mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membawamu pergi dari sini’ kata Mardini menirukan perkataan ibunya.

Agustus 2015, dia dan Sarah meninggalkan Suriah dan terbang dari Damaskus menuju Beirut dan Istambul. Di sana mereka bergabung dengan pengungsi lainnya dalam sebuah grup pengungsi yang berisikan 30 orang. Mereka kemudian melakukan perjalanan di dalam hutan menuju Izmir, Turki, sebuah wilayah di pinggir pantai sambil menunggu kapal yang akan membawa mereka ke pulau Lesbos di Yunani.

Empat hari berada di dalam hutan, Mardini dan saudaranya bersama 18 orang lainnya termasuk seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun, diangkut menggunakan sebuah kapal yang seharusnya hanya dapat mengangkut 6 orang, namun dipaksakan untuk 20 orang penumpang. Pada percobaan pertama mereka tertangkap petugas perbatasan dan dikirim balik. Di kesempatan kedua, mesin kapal tiba-tiba mati.

Dari 20 orang di kapal, hanya Mardini, Sarah, dan 2 orang pria yang bisa berenang. Sehingga mereka berempat terjun ke dalam laut. Saat itu pukul 7 malam, arus balik membuat lautan terasa kejam dan tak bersahabat. Setelah berenang selama 3,5 jam akhirnya mereka tiba di daratan. Saat itu, kondisinya sudah teramat lelah dan hampir pingsan ketika menyentuh pasir pantai.

Tiba di Lesbos, bukan berarti perjuangan mereka berakhir. Mereka harus berjalan selama 4 hari, tidur di taman atau gereja. Meski mereka memiliki uang, taksi menolak untuk mengangkut mereka. Restoran pun kerap menolak untuk melayani pengungsi tersebut.

Kedua saudari ini melakukan perjalanan dengan jalan kaki, bus atau berlari dari Yunani menuju Macedonia hingga Serbia dan Hungaria. Mereka sedang berada di Budapest ketika otoritas Hungaria menutup stasiun utama kereta api untuk pengungsi. Banyak orang, termasuk saudara Mardini, menghabiskan ratusan euro untuk tiket kereta yang kemudian berakhir dengan penolakan, yang menyebabkan ratusan pengungsi melakukan protes di luar stasiun.

Namun entah bagaimana mereka dapat keluar dari Hungaria dan melanjutkan perjalanan melewati Austria hingga tiba di Jerman, di mana mereka berakhir di sebuah kamp pengungsi di Berlin, lalu berbagi tenda dengan 6 orang pria sesama pengungsi.

“Saat itu saya gembira,” ujar Mardini. Saya lega telah berada di Jerman, memiliki saudara di samping saya, hanya itu yang saya inginkan,” kata dia.

sumber: detik

artikel terkait:  Viral, Aksi Kebaikan Karyawan Sewa Mobil yang Menolong Ibu dengan Anak Kembar

berita inspirasi, inspirasi

Don't miss the stories followPortal Berita & Gosip Terbaru and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
Viral, Aksi Kebaikan Karyawan Sewa Mobil yang Menolong Ibu dengan Anak Kembar

Viral, Aksi Kebaikan Karyawan Sewa Mobil yang Menolong Ibu dengan Anak Kembar

Arsyad Hidayat, Melayani Jemaah Haji Sampai Menghadapi Tragedi

Arsyad Hidayat, Melayani Jemaah Haji Sampai Menghadapi Tragedi

Related posts
Your comment?
Leave a Reply